Jurnalis Online Indonesia /Palembang - PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) kini menghadapi tantangan serius terhadap citra korporasinya pasca insiden fatalitas yang merenggut nyawa Saudara Wili Noviyanto di wilayah operasional mitra kerjanya, PT PAMA (Site BTSJ).

Sikap manajemen emiten bersandi saham PTBA ini, yang hingga kini belum memberikan rilis resmi, dinilai dapat menciptakan negative market sentiment di tengah tuntutan transparansi investor global.

​Sebagai perusahaan yang menyandang status Blue Chip, PTBA terikat pada regulasi ketat mengenai keterbukaan informasi.

Ketiadaan official statement terkait penanganan insiden fatalitas ini dikhawatirkan akan memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai integritas sistem pengawasan K3 dan manajemen risiko perusahaan.

​Paparan Risiko ESG dan Sentimen Investor

Analisis terhadap kepatuhan Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi parameter utama bagi investor institusi dalam menaruh modalnya. Ketidakterbukaan informasi atas hilangnya nyawa manusia di area operasional dipandang sebagai risk exposure yang signifikan.

​"Informasi mengenai fatalitas kerja adalah variabel material. Jika emiten cenderung tertutup, maka kepercayaan publik dan investor terhadap laporan keberlanjutan perusahaan dapat tergradasi. Hal ini berpotensi memberikan tekanan pada harga saham di bursa jika tidak segera dimitigasi dengan klarifikasi yang transparan," ungkap pengamat dari Redaksi Jurnalis Merah Putih Sumatera Selatan.

​Kegagalan Hak Jawab dan Akuntabilitas

Kepala Perwakilan Jurnalis Merah Putih Sumatera Selatan, Yh Pratama S.S(Jawir), menegaskan bahwa upaya korespondensi resmi telah dilakukan, namun pihak korporasi masih memilih untuk menunda penjelasan konkret kepada publik.

​"Kita tidak hanya bicara soal prosedur investigasi teknis, melainkan akuntabilitas PTBA sebagai perusahaan terbuka. Publik dan pemegang saham berhak mendapatkan informasi yang akurat agar tidak terjadi asimetri informasi yang merugikan pasar," tegas Yh

​Kini, bola panas berada di tangan manajemen PTBA. Apakah mereka akan segera memulihkan kepercayaan publik dengan transparansi, atau tetap membiarkan spekulasi pasar berkembang liar seiring dengan tertutupnya akses informasi terkait tragedi di Site BTSJ tersebut.